Sabtu, 30 April 2011

EQUISETUM



Paku Equisetum atau paku ekor kuda merupakan anggota dari divisi Sphenophyta. Paku ekor kuda adalah garis keturunan tumbuhan tak berbiji kuno lainnya yang beralih sampai ke radiasi tumbuhan vaskuler awal pada masa Devon. Kelompok tersebut mencapai masa kejayaannya selam masa Karboniferus, Ketika banyak spesiesnya tumbuh hingga setinggi 15 cm. Yang bertahan hidup dari divisi tumbuhan ini hanyalah sekitar 15 spesies dari genus tunggal yang tersebar sangat luas. Equisetum adalah yang paling umum ditemukan di Bumi Belahan Utara. Kata Equisetum berasal dari kata equus yang berarti kuda dan saeta yang berarti rambut tebal dalam bahasa Latin. Sehingga tumbuhan yang termasuk genus ini disebut juga paku ekor kuda. Spesies dari genus ini umumnya tumbuh di lingkungan yang basah seperti kolam dangkal, daerah pinggiran sungai, atau daerah rawa (Campbell, 2003:165).

Menurut Stern (2003: 405) Eqiusetum biasanya tumbuh dengan tinggi kurang dari 1,3 meter (4 kaki), tetapi pada beberapa di daerah tropis dan pantai hutan tropis di California tingginya dapat melebihi 4,6 meter (15 kaki). Terdapat cabang, mereka biasanya di tumbuh secara berkala sepanjang mereka berhubungan dengan batang. Kedua cabang dan spesies yang tidak bercabang memiliki daun yang sangat kecil (mikroskopis). Daun ini melebur bersama di pangkalan mereka, membentuk leher. Warnanya hijau ketika mereka pertama kali muncul, tapi mereka akan segera layu dan memutih, dan hampir semua proses fotosintesis terjadi di batang.

Menurut Holttum (1959: 581) menyatakan bahwa “marga Equisetum menuat kira-kira 25 jenis yang sebagiannya hidup di darat dan sebagian hidup di rawa-rawa”.
Klasifikasi
Smith (1955) dalam Dasuki (1991: 169) Klasifikasi dari Equisetum ialah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
    Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
        Kelas: Equisetopsida
            Ordo: Equisetales
                Famili: Eqisetaceae
                    Genus: Equisetum
Dari hasil penelitian diketahui bahwa “kelas Equisetopsida terdiri dari 3 ordo, yaitu Ordo Equisetales, Ordo Sphenophyllales, dan Ordo Protoarticulatales” (Lubis, 2009: 25).
Deskripsi Morfologi
  1. Batang
Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak, biasanya bercabang-cabang yang tegak itu berumur satu tahun saja. Di dalam batang terdapat tiga macam saluran, yaitu (Dasuki, 1991: 170):
  1. Saluran pusat, merupakan saluran yang terletak di tengah-tengah batang. Tetapi pada batang yang masih muda saluran ini belum terdapat salurtan pusatnya, demikian juga pada batang yang ada di dalam tanah.
  2. Saluran karnial, terletak di sebelah dalam dari ikatan pembuluh. Saluran ini merupakn lingkaran dan pada tiap-tiap saluran letaknya bertepatan denagn rigi-rigi pada permukaan batang.
  3. Saluran valekular, saluran ini letaknya di dalam korteks yaitu di sebelah luar dan berseling dengan saluran karnial. Saluran pusat dan karnial berfungsi untuk penyimpanan air, sedang saluran valekuler berfungsi untuk menyimpan udara.
Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya menyerupai sisik saja.
  1. Daun
Daunnya meruncing pada bagian ujungnya dengan satu berkas pengangkut yang kecil. Karangan daun kebawah berlekatan dengan suatu sarung yang menyelubungi batang. Banyaknya daun tergantung dari pada besarnya batang, tetapi karena daun-daun tersebut amat kecil maka yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis adalah batangnya yang berwarna hijau. Cabang-cabang batang tidak keluar dari ketiak daun melainkan keluar dari antara dun-daun. Ada jenis yang batangnya tidak bercabang dan baru bercabang apabila ujungnya dihilangkan. Jenis yang mempunyai percabangan banyak adalah jenis yang paling primitif, misalnya E.arvense, sebaliknya jenis yang tidak bercabang dianggap jenis yang sudah agak maju (Dasuki, 1991: 171).
  1. Akar
Akar dari Equisetum sangat kecil dan halus terdapat pada buku-buku dari rizome atau pada pangkal batang. Diantara anggota Equisetum terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kondisi yang buruk.

Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi pada Equisetum ialah sporangiumnya terdapat pada sporangiosfor yang tidak lain adalah sporofil. Karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian tersebut menyerupai suatu kerucut di ujung batang. Sporofil atau sporangiosfor berbentuk perisai dengan satu kaki di tengah dan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawah. Spoeangium berasal dari sebuah sel pada permukaan, karena pertumbuhan dari jaringan tengah sporangia terdesak ke bawah sehingga akhirnya terdapat pada sisi bawah dan mengelilingi tangkai (Mader, 2001: 565).
Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosoprangium, dan disamping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar meperti lidah. Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetapi di tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita atau yang dinamakan kepala kaptera yang memperlihatkan gerakan higioskopik itu (Dasuki, 1991:172).
Strobili biasanya panjangnya sekitar 2 sampai 4 cm (0,75 sampai 1,5 inci). Berbentuk heksagonal, seperti piring dovetailing pada permukaan srobilus yang memberikan tampilan dari permukaan berbentuk elips. Segi enam masing-masing menandai puncak sporangiospore yang memiliki pemanjangan 5 sampai 10 sporangia yang saling terhubung. Batang dari sporangiophores melekat pada poros tengah dari strobilus. Sporangia mengelilingi tangkai sporangiophore dan berada titik ke dalam. sporangia ini tersembunyi tidak terlihat sampai jatuh apabila sporangiophores terpisah sedikit. Spora ini akan dilepaskan (Stern, 2003: 407).

Siklus Hidup
Siklus hidup dari Equisetum terdiri dari tahap sporofit dan gametofit. Pada tahap sporofit, tunas fertil yang didalamnya terdapat strobilus dan si dalam strobilus terdapat kantung-kantung sporangiospore yang nantinya akan mengeluarkan spora dari sporangium. Selanjutnya terjadi tahap meiosis untuk memproduksi spora dan berkembang menjadi Rhizoid. Pada Rhizoid nanti akan menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan (sperm) dihasilkan oleh Antheridium, sedangkan gamet betina (sel telur) dihasilkan oleh Archegonium. Pada tempat yang cocok keduanya akan bersatu ( fertilisasi) dan tumbuh menjadi zigot yang merupakan gametofit dan berkembang menjadi tunas yang vegetatif. Gambar dari silkus hidup Equisetum ialah sebagai berikut (Randy dkk, 1996):




Kunci Identifikasi
Menurut Hauke ( 1966: 81) Kunci Identifikasi dari Equisetum ialah sebagai berikut:


1 pemanjangan ujung batang hanya terjadi 1 tahun atau lebih, biasanya dengan lingkaran yang teratur dari cabangnya; permukaan stomata, tersebar atau bergerombol; bagian ujungnya membulat.
1a Subg. Equisetum
+ Ujung batang tetap melakukan pemanjangan lebih dari setahun (kecuali beberapa Equisetum laevigatum), biasanya tidak bercabang; stomatanya tenggelam, dalam suatu garis; bagian ujungnya tirus.
1b Subg. Hippochaete





2 Ujung batang tidak bercabang.
(3)
+
Ujung batang bercabang dengan cabang yang bergelung.



(8)




3 (2) Ujung batnag berwarna hijau.
(4)
+ Ujung batang tidak berwarna hijau.
(5)




4 (3) Daunnya persegi dilihat dari permukaan; bergerigi lebih dari 11 per daunnya, seringkali seluruhnya berwarna hitam atau dengan dibatasi oleh garis putih, 2-3 mm.
1 Equisetum fluviatile
+ Daunnya memanjang jika dilihat dari permukaan; bergerigi lebih sedikit dari 11 per daunnya, dengan dibatasi oleh garis putih yang menonjol dan gelap ditengahnya, 2-5 mm.
2 Equisetum palustre




5 (3) Daunnya bergerigi kemerah-merahan, tipis, berlekatan menjadi 3-4 bagian yang besar.
6 Equisetum slyvaticum
+ Gerigi daunnya berwarna hitam atau coklat, keras, sebagian atau bergabung menjadi lebih dari 4 grup kecil.
(6)




6 (5) Ujung batang dengan stomata, secara terus-menerus menjadi hijau dan bercabang.
7 Equisetum pratense
+ Ujung batang kekurangan stomata, mati setelah melepaskan sporanya.
(7)




7 (6) Daun yang bergerigi lebih dari 14.
3 Equisetum telmateia
+ Daun yang bergerigi kurang dari 14.
4 Equisetum arvense




8 (2) Diantara tangkainya dari tiap cabang lebih pendek daripada bagian ujung batangnya; cabangnya membentuk lembah yang membulat.
(9)
+ Diantara tangkainya dari tap cabang sama atau lebih panjang daripada bagian ujung batangnya; cabangnya membentuk lembah yang menyalurkan.
(11)




9 (8) Cabang-cabangnya keras, berkerut rabung.
3 Equisetum telmateia
+ Cabang-cabangnya lemah, bulat rabung.
(10)




10 (9) Daunnya persegi jika dilihat dari permukaan; bergerigi lebih dari 11 per daun, gelap, adakalanya dengan dibatasi oleh garis putih, 2-3 mm.
1 Equisetum fluviatile
+ Daunnya memanjang jika dilihat dari permukaan; bergerigi lebih sedikit dari 11 per daunnya, dengan garis putih yang menonjol dan gelap ditengahnya, 2-5 mm.
2 Equisetum palustre




11 (8) Ujung batang daunnya kemerah-merahan, tipis, berdekatan dalam 3-4 grup besar; cabang batangnya juga bercabang.
6 Equisetum sylvaticum
+ Ujung batang daunnya gelap, keras, sebangian bergabung dalam lebih dari 4 grup kecil; cabang batangnya tidak bercabang.
(12)




12 (11) Cabang daun yang bergerigi kuat; cabangnya menyebar.
7 Equisetum pratense
+ Cabang daun yang bergerigi tipis; cabangnya membubung.
(13)




13 (12) Lingkaran dari cabangnya sedikit dengan diantara tangkai pertamanya lebih jauh dari pada daunnya; sporanya berwarna hijau, berbentuk bola.
4 Equisetum arvense
+ Lingkaran dari cabangnya sedikit dengan diantara tangkai pertamanya lebih dekat sama ke daun; sporanya putih, bentuknya tidak serasi.
5 Equisetum xlitorale




14 Ujung cabang batangnya teratur; adakalanya garis stomatanya rangkap.
8 Equisetum ramosissimum
+ Ujung yang tidak bercabang atau cabangnya menyebar; garis stomatanya selalu tunggal.
(15)




15 (14) Puncak kerucutnya membulat; Cone apex rounded; membulat setiap tahunnya.
9 Equisetum laevigatum
+ Puncak kerucutnya tajam; ujung batangnya tetap hijau.
(16)




16 (15) Sporanya putih, tidak teratur bentuknya.
(17)
+ Sporanya hijau, berbentuk bola.
(19)




17 (16) Daunnya hijau, bergerigi keras.
14 Equisetum xnelsonii
+ Daunnya gelap-bergaris; bergerigi keras atau lemah.
(18)




18 (17) Bergerigi lebih dari 14 atau lebih sedikit per daunnya, keras.
13 Equisetum xmackaii
+ Bergerigi lebih dari 14 per daunnya,biasanya lemah.
11 Equisetum xferrissii




19 (16) Daun-daunnya gelap-bergaris pada tangkainya dati batang; bergerigi 14 atau lebih dari per daunnya, biasanya lemah; terlihat persambungannya.
10 Equisetum hyemale
+ Daun-daunnya hijau atau bergaris samar-samar pada dekat tangkainya dari dasar batang; bergerigi32 atau lebih desikit per daunnya, biasanya kuat, lemah dalam beberapa spesies; tidak terlihat persambungannya.
(20)




20 (19) Bergerigi 3-32 per daunnya; persambungan batang sama seperti bergerigi; ujung batangnya lurus dan kuat.
(21)
+ Bergerigi 3 per daunnya; batangnya 6 bersambungan; ujung batangnya tidak lurus dan berbelit-belit.
15 Equisetum scirpoides




21 (20) Daunnya bergerigi selalu lemah; ujung tangkainya membulat ke arah apikal dengan kasar ujungnya; perambungan batangnya lurus atau cembung.
9 Equisetum lsevigatum
+ Daunnya bergerigi selalu kuat seluruhnya; ujung apikalnya tajam; kadang kala beralur pada berambungan batangnya.
12 Equisetum variegatum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar